Bagi yang
belom pada tau,saya share deh naskahnya..
Lakon
Mengapa Kau Culik Anak Kami?
Karya
Seno Gumira Ajidarma
Sandiwara tiga babak
Keterangan:
Naskah ini diketik ulang oleh Leebirkin dari buku
“Mengapa kau culik anak kami?” karya Seno Gumira Ajidarma (SGA).
Diterbitkan oleh Galang Press, Yogyakarta (2001).
Hak cipta milik SGA dan Galang Press.
Naskah sandiwara ini boleh
dipentaskan tanpa izin penulis dan tanpa royalti, selama tidak menjual tiket.
Royalty buku dan pementasan yang merupakan hak penulis, disalurkan pada korban
kekerasan Negara.
BABAK PERTAMA
Jam Westminter berdentang 10 kali
Dari jendela tampak bulan separuh
SEGALANYA HITAM DI PANGGUNG ITU.
LANTAI HITAM, LAYAR HITAM, SEGALANYA HITAM – BAHKAN JUGA MEJA DAN KURSI.
SEGALANYA MEMANG HITAM, TAPI DUA SOROT LAMPU PUTIH MASING-MASING MENERANGI
BAPAK DAN IBU. MEREKA SUDAH BERUSIA PARUH BAYA, SEKITAR 50 AN. BAPAK MENGENAKAN
KAOS OBLONG PUTIH DAN SARUNG. IBU MENGENAKAN KAIN DAN KEBAYA SUMATERA.
BAPAK BERSANDAL KULIT SILANG, IBU
BERSELOP TUTUP. BAPAK MENONTON TV. IBU MEMBACA BUKU. BAPAK MEMENCET REMOTE
KONTROL. BERDECAK-DECAK SEBAL, LANTAS MEMATIKANNYA. SUASANA SEPI.
MUSIK BLUES FADE IN. LAMPU MEREDUP.
BAPAK MELAMUN. IBU MASIH MEMBACA. MUSIK BLUES FADE OUT. LAMPU TERANG.
BAPAK
Bu….
IBU
Ya….
BAPAK
Baca buku apa sih?
IBU (Sambil membaca sampulnya)
Oh, ini buku baru: Cara Melawan Teror
BAPAK
Apa katanya?
IBU
Baru juga mulai baca. Belum tahu isinya. Habis diajak ngomong terus
sih!
BAPAK
Yah, di sampul belakang kana da kecapnya.
IBU (Melihat sampul belakang)
Apa ya katanya?
(Membaca)
Buku ini perlu dibaca penduduk Negara-negara yang akan hancur, karena
dalam masyarakat seperti itu kendali hukum sangat mengendor, tatanan nilai
kabur, sehingga melahirkan anarki. Setiap orang berbuat seenak perutnya sendiri
dan memaksakan kehendaknya dengan teror . itulah gunanya buku ini: Cara Melawan
Teror. Perlu dibaca oleh mahasiswa, aktifis, wartawan, penasehat hukum dan
berbagai profesi yang rawan terror. Buku ini juga berguna bagi siapa saja yang
merasa perlu lebih siap melawan teror.
BAPAK
Untuk apa kamu baca itu?
IBU
Lho, bapak ini bagaimana sih?
BAPAK
Bagaimana apa?
IBU
Baru setahun kok sudah berusaha lupa.
BAPAK
Apa?
IBU
Keterlaluan
BAPAK
Ada hubungannya dengan buku itu?
IBU
Ya jelas dong!
BAPAK
Ca-ra-me-la-wan-te-ror. Apa yang kulupakan ya?
IBU
Pikir sendiri
BAPAK
Aku malah inget yang lain.
IBU
Apa?
BAPAK
Buku itu menyatakan seolah-olah Negara kita sudah hancur.
IBU
Memang sudah hancur, bagaimana!
BAPAK
Begitu ya bu?
IBU
Wah, aku nggak mau jadi analis politik amatiran. Bapak saja yang
ngomong.
BAPAK
Aku juga sebetulnya tidak tahu apa-apa, bu!
IBU
Tapi yang satu itu tidak boleh lupa.
BAPAK
Apa?
IBU (Hanya melihat ke arah Bapak)
BAPAK
Tidak boleh lupa?
IBU
Tidak boleh.
BAPAK
Kalau lupa?
IBU
Kalau bapak lupa, artinya sengaja melupakannya. Itu juga berarti bapak
ikut berdosa.
BAPAK
Waduh, menyangkut dosa lagi! Gawat sekali rupanya. Aku paling malas
berdosa.
IBU
Paling malas berdosa!?
BAPAK
Iya.
IBU
Ah, yang bener….
BAPAK
Iya! Kamu tidak percaya?
IBU
Kayaknya bapak selalu lupa deh dengan dosa-dosa bapak yang terbesar.
Toh semua itu aku bisa maafkan. Tapi tidak untuk yang satu ini.
BAPAK
Aneh. Aku bisa lupa dosa-dosaku. Tapi yang satu ini tidak boleh lupa.
Kalau lupa, itulah dosa yang terbesar.
IBU
Makanya, jangan berlagak pikun
BAPAK
Jadi, apa?
IBU
Lho!
BAPAK
Aduh! Manusia itu kan pelupa Bu! Masa aku tidak boleh lupa!?
IBU
Yah, manusia pelupa, manusia cepat lupa, apalagi yang menyangkut dosa.
BAPAK
Gawat-gawat sekali. Apa yang kulupakan selama ini?
IBU
Oalah pak, pak. Kita memang tidak pernah membicarakannya selama ini.
Tapi itu tidak berarti kita boleh melupakannya.
BAPAK
Wah, apa ya? Kamu bilang tadi, ada hubungannya dengan cara melawan
teror
IBU
Sebetulnya bapak inget.
BAPAK
Tidak. Aku sungguh-sungguh lupa.
IBU
Gawat.
BAPAK
Apa ya? Kenapa begitu gawat?
IBU
Karena melupakannya adalah dosa besar.
BAPAK
Kita harus mengingatnya?
IBU
Ya.
BAPAK
Kita harus membicarakannya?
IBU
Ya. Kalau perlu sengaja memperingatinya.
BAPAK
Tidak mikul dhuwur mendem jero? Melupakan yang buruk mengingat yang
baik?
IBU
Nggak usah!
BAPAK
Waduh! Gawat!
IBU
Kenapa?
BAPAK
Aku tidak ingat
IBU
Jadi, semuanya ini ada hubungannya dengan terror!
BAPAK
Terror!
IBU
Ya! Terror!
BAPAK
Te-ror….
IBU
Ya. Te-ror….
BAPAK
Te-ror-te-ror-te-ror….hmmm….
IBU (Melihat dengan wajah kesal)
BAPAK
Aku belum ingat apa yang ada hubungannya dengan kita. Tapi kalau
mendengar kata itu, aku jadi ingat apa yang terjadi pada zaman geger-gegeran
dulu itu.
IBU
Itu juga belum lama.
BAPAK
Tapi semua orang sudah lupa.
IBU
Pura-pura lupa.
BAPAK
Buku sejarah saja tidak mencatatnya.
IBU
Itu dia. Dosa orang lain dicatat besar-besaran. Dosa sendiri menguap
entah kemana.
BAPAK
Hmmm. Rumit ya Bu?
IBU (Berdiri, berjalan ke jendela)
Sebetulnya tidak. Semuanya jelas. Siapa yang bisa melupakannya? Aku
masih kecil waktu itu. Malam-malam semua orang berkumpul. Mereka membawa golok,
clurit, pentungan dan entah apa lagi. Mereka mengepung rumah itu selepas tengah
malam. Mereka berteriak-teriak, karena yang dicarinya naik ke atas genteng.
Orang itu lari dari atap satu kea tap lainnya seperti musang. Kadang-kadang dia
jatuh, merosot. Orang-orang mengejarnya juga seperti nengejar musang. Aku masih
inget suara gedebugan di atas genteng itu. Orang-orang mengejar dari gang ke gang,
suaranya juga gedebukan. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan parang.
Orang itu lari. Terpeleset, hamper jatuh ke bawah, merayap lagi. Sampai semua
tempat terkepung. Orang itu terkurung….
BAPAK
Sudahlah bu! Sudah lebih dari tiga puluh tahun.
IBU
Aku tidak bisa lupa. Bukan hanya karena kejadian yang dialami orang
itu, tapi apa yang dialami keluarganya. Dia punya anak, punya istri, punya ibu.
Semua melihat dia dikejar seperti musang. Melihat dengan mata kepala sendiri
orang itu merosot dari atas genteng ketika terpeleset dan tidak ada lagi yang
bisa dipegang. Orang-orang di bawah menunggunya dengan parang.
BAPAK
Bu!
IBU
Orang-orang itu menghabisinya seperti menghabisi seekor musang. Orang
itu digorok seperti binatang. Ibu menutupi mataku. Tapi aku tidak bisa
melupakan sinar matanya yang ketakutan. Aku masih ingat sinar mata orang-orang
yang mengayunkan linggisnya dengan hati riang. Kok bisa? Kok bisa terjadi semua
itu. Bagaimana perasaan anaknya mendengar jeritan bapaknya? Bagaimana perasaan
istri mendengar jeritan suaminya? Bagaimana perasaan ibu mendengar jeritan
anaknya? Apa bapak yakin setelah tiga puluh tahun lebih mereka bisa
melupakannya? Mereka mungkin ingin lupa. Tapi apa bisa? Politik itu apa sih,
kok pakai menyembelih orang segala?
BAPAK
Untuk apa kamu mengingat-ingat ini semua?
IBU
Itulah pertanyaanku juga. Untuk apa? Tapi aku tidak sengaja
mengingat-ingat. Aku ingat begitu saja. Kenangan itu menempel seperti lintah.
Dia lewat seperti kenangan.
BAPAK
Kenangan buruk.
IBU
Mimpi buruk
BAPAK
Sejarah
IBU
Itulah dia pak. Sejarah. Sejarah itu ada. Hidup terus sampai hari ini.
BAPAK
Waktu
IBU
Waktu itu aku tidak tahu kalau sekolah libur. Aku berangkat ke sekolah.
Ketika sampai di kelas, aku Cuma mencium bau amis darah. Darah orang-orang yang
disiksa menyiprat di tembok, papan tulis dan bangku-bangku. Di mana-mana orang
bergerombol, berteriak-teriak, mencari orang-orang yang diburu.
BAPAK
Wak-tu
IBU
Begitu buruk. Begitu mengerikan. Tapi mengapa kita sekarang
mengulanginya?
BAPAK
Satria!
IBU
Itulah. Bapak ini belum begitu tua kok sudah berusaha pikun. Tidak baik
begitu pak. Kalau kita melupakan kekejaman, kita akan mengulanginya.
BAPAK
Aku Cuma ingat bagaimana orang-orang menjauh ketika semua itu menimpa
kita. Orang yang malang malah dijauhi. Ada yang bilang. “Sorri aku baru
menelpon sekarang, ini pun dari telepon umum, karena aku takut teleponku
disadap, aku harap semuanya baik-baik saja. Sorry, aku takut, aku punya anak
kecil soalnya” hmmmh. Saudara-saudara menjauhi semuanya. Takut, seperti kita
ini punya penyakit sampar.
IBU
Habis begitu memang begitu caranya menilai. Pikiran kok dianggap
menyatu dengan darah.
BAPAK
Cara berpikir apa itu ya?
IBU
Cara berpikir orang bego!
BAPAK
Bego tapi berkuasa.
IBU
Begitu berkuasanya sehingga merasa berhak menguasai pikiran, dan sangat
tersinggung kalau orang berpikir lain.
BAPAK
Sangat tersinggung.
IBU
Sangat tersinggung. Maka mengamuklah dengan pentungan, penangkapan,
penculikan dan penganiayaan.
BAPAK
Kekuasaan yang kerdil.
IBU
Kerdil.
BAPAK
Kerdil.
TELEPON BERDERING. BAPAK MENGANGKAT TELEPON
BAPAK
Hallo! Ya? Salah! Salah sambung! Ini Cikini, bukan Jurang Mangu. Tidak
apa-apa. Selamat malam.
IBU
Terror lagi?
BAPAK
Bukan. Memang salah sambung.
IBU
Dulu Satria sering diteror lewat telepon
BAPAK
Ya, aku tahu. Aku juga sering diteror, dikira Satria.
IBU (setelah jeda)
Ah, Satria. Satria….
LAMPU MEREDUP
BABAK KEDUA
Jam Westminter berdentang 11 kali
Dari jendela tampak bulan sabit
IBU
Mbok!
BAPAK
Dulu itu namanya pencidukan
IBU
Mbok!
BAPAK
Rumah-rumah disatroni, penghuninya diambil, lantas dibawa entah kemana.
Biasanya sih mereka tidak pernah kembali.
IBU
Mbok!
BAPAK
Diciduk! Itu istilahnya. Diciduk.
IBU
Mboook!
BAPAK
Nah, sekarang aku sudah ingat, tapi rupanya kamu yang jadi pelupa bu,
memanggil si mbok dari tadi. Si mbok itu kan tiap malam jum;at kliwon pergi ke
kali, membakar kemenyan.
IBU (Menampar jidatnya sendiri)
Ah iya, aku yang lupa sekarang.
BAPAK
Padahal kamu dulu yang cerita
IBU
Cerita apa?
BAPAK
Masih lupa? Kata kamu, si mbok itu waktu masih muda sebenarnya pemain
ludruk.
IBU (Melanjutkan)
Ketika semua pemain ludruk dibantai, tinggal dia sendirian yang
tersisa.
BAPAK
Waktu kamu masih kecil, dia bisa bercerita. Waktu kamu sudah besar, dia
tidak bisa bercerita apa-apa lagi.
IBU
Iya, selalu mengaku lupa dan hanya bisa pergi ke kali itu setiap malam
jum;at kliwon.
BAPAK
Di kali itulah, yang suatu ketika bisa betul-betul merah karena darah,
mayat-mayat mengalir seperti sampah. Di kali itulah mayat teman-temannya pemain
ludruk mengapung.
IBU
Iya. Kok napak bisa ingat dan aku tidak?
BAPAK
Penduduk pinggir kali, kere-kere itu, menunggu mayat-mayat yang lewat.
Mereka menggaet mayatmayat dengan bamboo yang diberi pengait di ujungnya.
Mereka geret mayat-mayat itu ke tepian, lantas mereka jarah.
IBU
Bapak ingat semuanya. Padahal itu ceritaku.
BAPAK
Penduduk mengambil arloji, ikat pinggang, cincin dan akhirnya menjebol
gigi emas dari mayat-mayat itu.
IBU
Kenapa aku bisa lupa?
BAPAK
Barangkali kamu yang ingin melupakannya.
IBU
Aku tidak pernah ingin melupakannya.
BAPAK
Barangkali. Tapi bawah sadarmu ingin melupakannya. Mestinya kamu kan
paling tidak bisa lupa soal kliwon-kliwonannya si mbok itu. Cuma, kalau dulu ia
pergi ke akli Madiun, sekarang ke kali Ciliwung. Hmmm, lupa. Ingat. Lupa.
Ingat. Kenangan siapa yang paling shahih jadi sejarah kita? Dering telepon di
malam hari bisa punya makna yang mengerikan.
MUSIK BLUES FADE IN. LAMPU MEREDUP, MUSIK BLUES FADE OUT. LAMPU TERANG
KEMBALI. BAPAK BERDIRI DARI KURSINYA BERJALAN-JALAN.
BAPAK
Ide! Ide! Gagasan! Coba bu, darimana datangnya gagasan itu!?
IBU
Gagasan yang jahat
BAPAK
Aku mencoba membayangkannya bu. Sejumlah orang ebrkumpul di sekeliling
meja di sebuah ruangan ber AC. Mereka mempunyai daftar nama. Mereka
membicarakan….
IBU
Nanti dulu pak! Apa Cuma segitu bayangan bapak?
BAPAK
Cuma segitu?
IBU
Bapak sudah membayangkan sejumlah orang berkumpul di ruangan ber AC.
Apa Cuma itu?
BAPAK
Maksudnya?
IBU
Bagaimana kek tampang mereka. Bagaimana kondisi ruangannya, terdengar
apa saja, minum apa mereka di situ, pakai seragam atau tidak? Yang rinci dong!
BAPAK
Hmmmm. Rinci, ya? rinci.
IBU
Iya. Namanya juga mengingat-ingat.
BAPAK
Yang pasti tubuh mereka kekar-kekar. Ruangannya putih bersih.
IBU
Ada gambar gak di situ?
BAPAK
Kalau lukisan tidak ada. Selera mereka kan payah-payah. Tapi ada gambar
Presiden dan wakil presiden.
IBU
Bapak bilang ruangan ber AC. Berdengung atau tidak AC nya?
BAPAK
AC nya bagus. Tidak berdengung. Sesejuk hawa pegunungan.
IBU
Mereka berkumpul begitu, karena mau rapat?
BAPAK
Pasti membicarakan sesuatu! Memangnya mau arisan!?
IBU
Bapak ini kok darah tinggi sih! Maksudku, mereka minum apa? Teh atau
kopi?
BAPAK
Orang-orang begitu ya biasanya kopi!
IBU
Gelas atau cangkir?
BAPAK
Kok ada gelas atau cangkir?
IBU
Ya kan cangkir untuk atasan dan gelas untuk bawahan!
BAPAK
Memangnya ada atasan da nada bawahan?
IBU
Ya, ada pimpinannya lah, ada yang menugaskan, ada yang ditugaskan.
BAPAK
Tempat minumnya lain-lain?
IBU
Memangnya tempat minum jenderal sama dengan tempat minum kroco-kroco?
BAPAK
Aku tidak bisa membayangkan gelasnya bu! Kamu terlalu rinci!
IBU
Memang harus rinci. Di luar ruangan, terdengar suara helicopter datang
dan pergi atau tidak?
BAPAK (Menirukan suara helicopter)
Dud-dud-dud-dud-dud-dud-dud. Suara helicopter. Kalau ada masuk akal
juga!
IBU
Artinya mereka berseragam dong!
BAPAK
Berseragam! Seragam robot!
IBU
Nah, sekarang bapak bisa mulai. Mereka mempunyai daftar nama tadi bapak
bilang?
BAPAK
Mereka mempunyai daftar nama. Mereka menganalisis nama itu satu
persatu. Barangkali dari setiap nama, mereka sudah mempunyai data yang lengkap.
Nama, tanggal lahir, siapa orang tuanya, apa kegiatannya, organisasi apa yang
dipimpinannya.
IBU
Wah, kerja intel itu.
BAPAK
Tapi bukan sembarang intel. Kalau intel biasa kan Cuma menyelidiki,
mencatat dan melaporkan.
IBU
Kalau ini?
BAPAK
Menculik!
IBU
Kok bisa!?
BAPAK
Itu dia yang kutanyakan tadi. Ide! Ide! Gagasan! Darimana datangnya
gagasan untuk menculik itu!
IBU
Mereka mempunyai daftar nama bapak bilang!?
BAPAK
Mereka mempunyai daftar nama dan menganalisisnya satu persatu!
IBU
Lantas memutuskan untuk menculiknya!
BAPAK
Lantas memutuskan untuk menculiknya!
IBU
Kenapa begitu?
BAPAK
Tergantung analisisnya
IBU
Bapak bisa membayangkan analisisnya?
BAPAK
Kita lihat saja nanti. Mereka membicarakan nama-nama itu satu persatu.
Dari setiap nama ditentukan, apakah dia berbahaya atau tidak.
IBU
Atas dasar apa?
BAPAK
Berbahaya bagi Negara atau tidak
IBU
Apa yang dimaksud berbahaya untuk Negara?
BAPAK
Kritis. Kritis itu berbahaya bagi Negara.
IBU
Lho, kritis itu berguna untuk Negara.
BAPAK
Jangan bilang sama aku, bilang sama mereka.
IBU
Apa punya kuping mereka itu?
BAPAK
Punya sih punya. Tapi kuping itu kalau tidak budge, pasti terlalu cepat
panas.
IBU
Yang namanya kritis itu, di zaman apapun, di Negara manapun selalu
berguna. Kenapa dianggap berbahaya?
BAPAK
Pada dasarnya sikap kritis memang berguna untuk Negara, tapi yang
menganggap berbahaya ini sebetulnya bukan Negara, melainkan orang-orang yang
me-ra-sa di-ri-nya adalah Negara!
IBU
Mati aku!
BAPAK
Mati. Ya, mati. Di negeri ini ada orang-orang yang merasa berhak
memutuskan mati hidupnya orang lain.
IBU
Maka mereka menculiknya.
BAPAK
Yah, merasa berhak menculiknya.
IBU
Mempunyai hak untuk menculik
BAPAK
Hak culik. Itu namanya. Hak culik.
IBU (Setelah jeda, meletakkan buku, berjalan ke jendela)
Waktu aku kecil, pembantu di rumah selalu bilang. Jangan keluar rumah
kalau sudah gelap. “ada culik” katanya. “Awas ada culik den” katanya selalu.
Aku selalu membayangkan yang disebut culik itu sebagai mahluk yang besar
bertubuh hitam yang muncul dari kegelapan. Dengan mudahnya ia menenteng kita,
menjepit kita diketiaknya. Katanya kita akan dibawa ke semak-semak, ke gerumbul
pohon pisang. Di sana kita akan mengira diberi makan bakmi, padahal yang kita
makan adalah cacing.
BAPAK
Cacing sih protein bu!
IBU
Setelah besar aku persetankan semua itu. Eh, kok ternyata culik itu
ada.
BAPAK
Yang kamu ceritakan tadi genderuwo, yang kita bicarakan ini manusia.
IBU
Manusia yang menculik.
BAPAK
Manusia yang menculik manusia.
IBU
Jadi bagaimana mereka menganalisisnya tadi pak?
BAPAK (Membayangkan ada di salah satu sudut meja)
Ini ada meja. Yang di sini berkata: “Tidak usah diragukan lagi, orang
ini sangat berbahaya. Dia terlalu pintar bicara. Persis seperti tukang obat.
Tapi dia tidak menjual obat. Dia menjual ideology. Sangat berbahaya. Dia pandai
menggalang massa. Dialah yang membagi-bagikan tugas. Siapa bikin demonstrasi.
Siapa bikin selebaran. Semua orang percaya padanya. Termasuk para pemberi dana.
Orang seperti ini yang harus diambil. Bukan yang teriak-teriak pakai corong.”
Lantas….
(Bapak berjalan seolah-olah ke
sudut meja lain)
Orang lain berkata: “Kalau begitu kita ambil dia. Bagaimana?”
(Berjalan ke sudut lain)
Orang lain lagi berkata: “Ambil.”
IBU
“Ambil” begitu kata mereka?
BAPAK
Barangkali juga “Angkat”
IBU
Sok tahu mereka itu.
BAPAK
Memang mereka sok tahu.
(Ke sudut lain lagi)
Yang lain berkata:” Kalau tidak kita ambil sekarang, lama-lama dia bisa
menjadi racun. Orang-orang melecehkan Negara”
IBU
Maksud dia penguasa?
BAPAK
Pokoknya dia bilang negara
IBU
Negara itu apa sih sebenarnya? Bentuknya tidak pernah jelas.
BAPAK
Yang jelas bentuknya ya penguasa-penguasa itu.
IBU
Penculik sebenarnya?
BAPAK
Penculik itu yang menyuruh ya penguasa.
IBU
Kok tahu?
BAPAK
Yang di sini bilang: “sebetulnya apa urusan kita dengan dia? Kita kan
tahu apa yang dikatakannya semua benar. Memang ada korupsi, memang ada
kecurangan dalam pemilu. Memang ada terror dan intimidasi. Republik ini sudah
hamper ambruk.”
(Pergi ke sudut lain)
Yang di sini menyahut: “kamu membela mereka? Apa kamu mau membangkang?”
(Pergi ke meja lain)
“Dia bukan mau membangkang terhadap tugas, dia mengatakan apa yang
dipikirkannya.”
(pergi ke sudut yang bertanya)
“Jangan berpikir di sini, laksanakan saja tugas kita dengan baik.”
(Pergi ke meja pembangkang)
Tapi mereka Cuma anak-anak.
(Ke meja lain)
“Ya, anak-anak yang berbahaya.”
(Ke meja pembangkang)
“Tapi apa hak kita untuk menculik, merampas kemerdekaan mereka?”
(Balik ke meja penanya)
“ Pertama, mereka berbahaya untuk Negara, kedua kalau pun kamu tidak
setuju, ini adalah tugas.” Ini dijawab lagi. “Tugas pun boleh ditolak kalau
keliru.” Lantas ditantang “Tolak saja kalau berani!” Dijawab lagi “Aku
menolak!”
BAPAK TERDIAM
IBU
Lantas?
BAPAK
Orang yang menolak tugas ini mati.
IBU (menghela napas)
Itu cerita yang terlalu bagus.
BAPAK
Kenapa?
IBU
Karena terlalu heroik
BAPAK
Mestinya?
IBU
Mereka semua penculik. Mereka semua setuju untuk menculik. Mereka
merencanakan penculikan dengan cermat dan dingin.
BAPAK
Yah, itu lebih gampang membayangkan.
IBU
Gampang?
BAPAK
Semuanya setuju untuk menculik kan?
IBU
Yah, semuanya setuju.
BAPAK
Jadi semuanya setuju untuk menculik, setidaknya karena ini adalah
tugas.
IBU
Tugas! Tugas! Mereka memang kejam dan tidak punya perasaan.
BAPAK
Sudahlah.
IBU
Apa itu “sudahlah!” tidak ada sudahlah! Kita harus menggugat.
BAPAK
Aduh. Ibu ini galak amat! Tadi katanya mau membayangkan.
IBU
Sakit membayangkannya. Cuma menimbulkan dendam.
BAPAK
Cobalah membayangkan tanpa
dendam. Kita harus lebih manusiawi dari mereka.
IBU
Baik. Jadi mereka merencanakan penculikan?
BAPAK (bercerita dengan gerak)
Mereka merencanakan penculikan. Menentukan saat untuk mengambil. Mereka
mengincar. Saat mana tidak ada orang. Supaya tidak ada saksi.
IBU
Heran. Darimana datangnya gagasan itu?
BAPAK
Mereka mendorongnya masuk mobil. Dibawa berputar-putar dengan mata
tertutup.
IBU
Apakah hal-hal semacam itu dipelajari?
BAPAK
Tentunya! Dipelajari dengan sistematis!
IBU
Pelajaran tentang cara-cara menculik, begitu?
BAPAK
Pasti ada namanya yang keren. Tapi isinya sama: menculik!
IBU
Hebat sekali. Menculik diberi nama lain.
BAPAK
Namanya juga pembenaran.
IBU
Pembenaran. Hebat sekali kata satu ini.
BAPAK
Semua orang hidup dengan pembenarannya masing-masing.
IBU
Itu tidak berarti boleh menculik orang lain dong
BAPAK
Menculik setelah merencanakan baik-baik dengan matang.
IBU
Matang dan terencana
BAPAK
Apakah mereka tidak bisa membedakan, bahwa tugas Negara pun bisa
ditolak kalau nggak bener? Dibuat dari apa hati nurani orang-orang ini?
IBU
Yang menugaskan itu lho pak.
BAPAK
Kenapa yang menugaskan?
IBU
Dida itulah yang lebih harus dipertanyakan lagi. Terbuat dari apa hati
nuraninya, sampai tega-teganya menculik lewat tangan anak buahnya.
BAPAK
Masalahnya apa iya anak buahnya itu terpaksa?
IBU
Maksud bapak, mereka menculik dengan senang hati?
BAPAK
Yah, kalau hati nurani menolak, ya menolaklah mereka.
IBU
Kita semua sudah terlatih tidak menggunakan hati nurani.
BAPAK
Kita?
IBU
Memangnya siapa yang suka menjarah rame-rame, membakar rame-rame,
memperkosa rame-rame, menyembelih rame-rame. Siapa?
BAPAK
Itu kan tidak setiap hari.
IBU
Bapak ini pikirannya bagaimana sih? Apa maksudnya kita boleh
sekali-sekali menjarah!?
BAPAK
Bu, itu semua terjadi kan karena ada
yang menggosok-gosok!
IBU (Setelah jeda)
Hati nurani. Hati nurani. Ke mana kamu?
BAPAK
Zaman sudah edan seperti ini. Hati nurani kamu tanyakan!
IBU
Jadi bapak sudah ingat sekarang?
BAPAK
Gila! Mereka menculik anak kita! Bagaimana aku bisa lupa?
LAMPU MEREDUP
BABAK KETIGA
Jam Westminter berdentang 12 kali
Di jendela, bulan itu menghilang
IBU
Sudah jam dua belas Pak, tidurlah.
BAPAK
Kenapa bukan kamu saja yang tidur?
IBU
Bapak tahu aku selalu susah tidur.
BAPAK
Aku juga.
IBU
Bagaimana bisa tidur kalau selalu teringat Satria!
BAPAK
Orang terakhir yang melihat dia bilang, waktu itu dia pakai kaos
oblong.
IBU
Iya, itu kaos Hard Rock Café yang dikirim Yanti dari New York.
BAPAK
Aktivis kok kaosnya Hard Rock Café.
IBU
Ya biarlah, namanya juga anak muda. Apa dia harus pakai kaos anti Orde
Baru setiap hari. Kan ya ganti-ganti.
BAPAK
Di mana Satria sekarang ya? Semua orang sudah kembali, dan orang-orang
yang kembali itu mendengar suara Satria juga.
IBU
Empat belas orang yang belum kembali
BAPAK
Ada yang anak tunggal malah….
IBU
Maksudnya apa, Pak?
BAPAK
Ya kan kasihan, anak Cuma satu kok diculik, barangkali dibunuh pula.
IBU
Sebentar, pak. Sebentar. Maksud bapak, kalau anaknya tiga seperti kita,
kehilangan satu anak tidak terlalu apa-apa, begitu?
BAPAK
Bukan.
IBU
Apa bapak berpikir, aku bisa bilang tidak apa-apa kehilangan satu, toh
masih ada dua anak lain?
BAPAK
Ya, tidak.
IBU
Jadi, untuk apa ngomong soal anak tunggal, pakai ‘malah’ lagi!
BAPAK
Maksudku, kamu itu tidak usah merasa paling menderita di dunia ini.
IBU
Apa aku bilang begitu?
BAPAK
Ya tidak. Sudahlah jangan marah
IBU
Makanya hati-hati kalau ngomong. Tidak setiap hari perempuan bisa
sabar.
BAPAK
Ya, ya, ya. Sorry.
(Setelah jeda)
Mereka itu masih hidup atau sudah mati ya?
IBU
Kalau masih hidup, kenapa tidak dikembalikan
BAPAK
Jangan-jangan dibunuh.
IBU
Untuk apa Satria dibunuh, untuk apa? Dia tidak melakukan kejahatan
apa-apa. Dia tidak bisa memimpin pemberontakan. Anak sekurus itu.
BAPAK
Kurus dan sakit-sakitan. Tapi pikirannya tajam.
IBU
Kenapa ada orang begitu takut pada pikiran, sampai-sampai harus
menculik dan membunuh pemilik pikiran itu.
BAPAK
Pikiran yang bebas sejak dahulu selalu dianggap berbahaya oleh Negara.
IBU
Negara goblok.
BAPAK
Apa kamu masih mengharapkan Satria hidup, Bu?
IBU (Berdiri, berjalan)
Kamu pikir bagaimana pak? Setiap kali aku memasuki kamar anak bungsu
kita itu, aku selalu merasa dia masih akan pulang. Melihat tempat tidurnya,
kaset dan CD nya, gitar, tustel, celana dan kaos oblong bergelantungan. Foto
pacarnya….(Ibu menangis)
BAPAK
Tabahlah bu. Tabah.
IBU (berhenti menangis)
Apa aku tidak seperti orang tabah?
BAPAK
Ya. kamu tabah. Kamu lebih tabah dari aku.
IBU
Kalau satria bisa bertahan, kenapa aku ibunya tidak? Tapi aku merasa
seolah-olah ia masih berada di sini. Aku masih selalu menyiapkan sarapannya
setiap hari, siapa tahu dia pulang. Kamu tahu pak, dia selalu sarapan roti,
pakai telur isi ceplok setengah matang dilapisi beef bacon yang kalau dia iris
lantas kuningnya meleler memenuhi piringnya. Lantas ia sapu dengan rotinya itu.
Minum kopi susu. Hamper tidak pernah bosan ia dengan telur. Tapi tidak pernah
ia jerawatan pak. Tahun belakangan ia sering tidak pulang, tapi paling lama
juga dua- tiga hari, itu pun selalu menelpon ke rumah. Sibuk rapat katanya.
Atau demo ini-itu. Aku selalu menyediakan vitamin karena tubuhnya kurus begitu.
Tapi semangatnya itu pak, kalau sudah ngomong, waduh, matanya berapi-api. Aku
tahu dia bisa bertahan dalam penderitaan.
BAPAK
Yah, dia akan tahan.
IBU (Menangis lagi)
Satria, kalau sakit sedikit saja manjanya bukan main.
BAPAK
Orang-orang yang sudah dilepas itu bercerita
IBU (Mencoba berhenti menangis)
Satria pasti tahan.
BAPAK
Mereka bertanya sambil mengemplang. Bertanya sambil menyetrum. Mereka
menginginkan jawaban seperti yang mereka kehendaki. Interogasi kok seperti itu.
Maksa! Dan satria itu orangnya ngeyelan. Mana mau dia ngaku meski disakiti.
IBU
Sebaiknya dia ngaku supaya dilepas.
BAPAK
Apa yang mau diakuinya? Dia tidak bisa mengakui hal-hal yang tidak
pernah dilakukan selanjutnya. Kita kan tahu Satria itu ngeyelan. Jangan-jangan
dia nantang minta disetrum lagi.
IBU
Keras kepala! Seperti kamu pak!
BAPAK
Apa kamu tidak keras kepala? Siapa dulu yang mogok makan?
IBU
Yah, kan itu masih muda.
BAPAK
Waktu sudah tua juga! Siapa yang bawa poster di depan kantor menteri
wanita?
IBU
Habis, perempuan-perempuan itu diperkosa kok menterinya dia saja.
BAPAK
Nah kan!
IBU
Aku sampai sengaja menyetrum diriku, ingin ikut merasakan penderitaan
Satria. Aduh, Satria, Satria, Satria seperti apa dia sekarang?
BAPAK
Kamu harus siap dengan penderitaan. Orang-orang yang dilepaskan
bercerita bagaimana mereka bukan Cuma ditanyai sambil dikemplang, ditanyai
sambil diestrum. Belum bener juga lantas kepalanya dimasukkan ke air sampai
mereka megap-megap. Rata-rata pengalamannya hampir sama.
IBU
Disundut rokok juga katanya. Apa sih maksudnya?
BAPAK
Supaya tersiksa.
IBU
Kalau sudah tersiksa?
BAPAK
Mereka menderita.
IBU
Kalau sudah menderita?
BAPAK
Diperhitungkan mereka akan mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka
lakukan.
IBU
Itu semua direncanakan? Dirapatkan? Disetujui? Lantas diputuskan untuk
dilaksanakan?
BAPAK
Apanya?
IBU
Penyiksaan itu dong!
BAPAK
Memangnya alamiah?
IBU
Jadi mereka dengan sengaja dan sadar menyiksa. Untuk apa? Kok caranya
begitu?
BAPAK
Itulah. Namanya juga maksa!
IBU
Jadi mereka dengan sadar melakukan pemaksaan. Menculik. Menanyai sambil
menempeleng dan menyetrum. Atau menyuruhnya tidur di atas balok es. Orang-orang
yang dilepaskan bercerita seperti itu kan?
BAPAK
Aku juga tak habis pikir. Mereka sengaja beli balok es. Beli! Beli
dimana mereka?
IBU
Beli? Mungkin bikin sendiri!
BAPAK
Bikin? Hahaha! Orang-orang tidak jegos! Pasti beli! “Saya mau beli
balok es yang cukup untuk tidur orang dewasa.” Katanya.
IBU
Kukira tidak beli. Minta.
BAPAK
Pasti tidak minta. Ngambil.
IBU
Berpikir tentang balok es untuk membuat para aktifis kedinginan, supaya
bisa dipanaskan dengan tempeleng. Cara mana sih itu?
BAPAK
Itu yang disebut kekejaman. Kebiadaban.
IBU
Apa orang-orang itu tidak punya seorang ibu yang setidak-tidaknya
pernah mengenalkan kasih saying, kelembutan, cinta. setidak-tidaknya orang-orang
itu kan bisa berpikir ada keluarga yang kehilangan, ibu yang mencari….
BAPAK
Apa kamu pikir orang-orang itu dilahirkan dari seorang ibu?
IBU
Apa mereka lahir dari batu?
BAPAK
Mereka dilahirkan oleh rahim kekejaman.
MUSIK BLUES FADE IN. LAMPU REDUP.
BAPAK BERJALAN KE JENDELA. MUSIK BLUES FADE OUT. LAMPU TERANG.
BAPAK
Bu, coba lihat, rembulan itu lenyap. Kalau tidak salah, tadi waktu jam
sepuluh bulan itu masih separuh. Jam sebelas tinggal bulan sabit. Sekarang
lenyap sama sekali. Apa ada gerhana?
IBU (Berjalan ke jendela)
Gerhana bulan kan tidak berjam-jam. Kalau gerhana pasti sudah muncul
lagi
BAPAK
Kalau tidak muncul lagi, apa namanya dong?
IBU (sambil pergi)
Namanya gerhana selamanya
BAPAK (Berbalik dari jendela)
Hehehehee…bisa saja kamu bu!
IBU
Pak! Satria itu pernah menanyakan hal yang sama lho waktu masih kecil.
Dia bertanya, kalau bulan tidak pernah muncul lagi bagaimana?
BAPAK
Kamu jawab apa?
IBU
Aku bilang bulan pasti muncul lagi. Tapi kalaupun tidak muncul lagi
kenapa harus kehilangan?
BAPAK
Kenapa?
IBU
Karena kita masih bisa mengharapkan rembulan itu akan muncul. Rembulan
itu akan selalu ada untuk kita. Kelihatan atau tidak kelihatan, karena dia
pernah ada.
BAPAK
Seperti apa sih Satria setelah besar?
IBU
Oh, ini bapak yang gak kenal anaknya ya!?
BAPAK
Dia kan lebih dekat sama kamu bu!
IBU
Yah, anak itu, sudah segede itu masih suka cerita sambil tidur
dipangkuanku.
BAPAK
Anak mami!
IBU
Memang anak mami! Cerita macam-macam hal sambil tiduran. Impian-impiannya,
harapan-hrapannya, kekecewaannya, kepahitannya. Dia memang peduli sekali dengan
politik. Aku sendiri nggak suka ngerti omongannya. Aku pernah bilang, hati-hati
dengan politik. Kubilang “kamu datang dengan pikiran-pikiran hebat, tapi orang
bisa menyambut kamu dengan pikiran ingin menyembelih. Dia bilang “politik yang
dewasa tidak begitu bu. Setiap orang harus mau mendengar pikiran orang lain.
“aku bilang lagi, “pokoknya hati-hati, di negeri ini politik selalu ebrarti
kekerasan, bukan pemikiran.”
BAPAK
Terus, apa katanya?
IBU
Dia bilang. Main kekerasan sudah harus dihentikan, karena kekerasan itu
kampungan!
BAPAK
Kalau kita semua masih kampungan bagaimana?
IBU
Bilanglah sama dia! Makanya jadi bapak ngobrol sedikit dong sama anak.
Jangan Cuma ngurusi kebatinan melulu. Coba kalau waktu itu bapak sempat
diskusi, barangkali tidak terlalu nekad itu anak.
BAPAK
Sama saja. Anak muda biasanya nekad. Justru orang-orang tua yang suka
cari selamat.
IBU
Satria. Baru apa dia sekarang?
BAPAK
Bu, siapa itu ibunya pacaranya Satria?
IBU
Calon besan?
BAPAK
Iya, yang janda itu.
IBU
Yang diingat kok jandanya!
BAPAK
Lho, memang janda toh?
IBU
Iya, iya. Ibu Saleha, ibunya Saras. Kenapa?
BAPAK
Waktu dia kesini terakhir kali, dia seperti mau bilang sesuatu.
IBU
Mau bilang apa?
BAPAK
Aku tidak tahu. Waktu itu aku tidak berpikir apa-apa. Tapi sekarang,
kalau kuingat-ingat, ia seperi ingin menyampaikan sesuatu. Soalnya, tidak ada
alasan pasti kenapa ia datang.
IBU
Dia menanyakan perkembangan Satria
BAPAK
Orang hilang kok ditanya perkembangannya!
IBU
Sudah ada titik terang apa belum, begitu lho, diberi simpati kok malah
sinis.
BAPAK
Dia itu seperti ingin kita mengerti, kalau Saras mau kawin. Harap
maklum.
IBU
Ya tidak apa-apa kan, kalau dia bermaksud begitu?
BAPAK
Hmmmh! Setia sekali Saras situ!
IBU
Eh, Saras situ memang setia lho pak. Cuma ibunya yang pengin dia tidak
usah menunggu Satria.
BAPAK
Orang diculik kok tidak mendapaty simpati.
IBU
Wah, asal tahu pak, ada juga lho yang nyukurin.
BAPAK (Kaget)
Apa? Nyukurin?
IBU
Iya, maksudnya salah sendiri Satria ikut-ikutan jadi aktifis. Kalau
diculik ya resikonya.
BAPAK
Artinya, kalau jadi aktifis, maka dia boleh diculik.
IBU
Itu pikiran mereka. Sebenarnya seperti kita juga kan pak, alergi dengan
politik. Lha wong yang diomongin demokratisasi, kok ketemunya clurit. Siapa
yang tidak alergi? Cuma kebetulan anak kita kelewat peduli dengan masalah
social, ujung-ujungnya jadi politik juga, meskipun dia muak dengan
partai-partaian. Kalau tidak, apa kamu juga akan peduli dengan politik?
BAPAK
Sampai sekarang aku juga tidak ingin peduli. Sok tahu semua.
IBU
Tapi terpaksa peduli kan, karena anak kita diculik?
BAPAK
Peduli tapi tidak ikut-ikutan. Hmmmm, partai. Apa ada harapan dengan
partai?
IBU
Politik itu sejarahnya tidak ada yang beres. Orang-orang diciduk,
orang-orang disembelih, orang-orang dipenjara dan dibuang tanpa pengadilan. Aku
masih ingat semua kisah sedih yang tidak bisa diucapkan itu. Keluarga yang
kehilangan bapaknya, anak yang kehilangan ibunya, istri yang kehilangan suaminya.
Mereka tidak mengucapkan apa-apa. Tidak bisa mengucapkan apa-apa. Tertindas.
Keplenet. Tidak pernah ngomong karena takut salah. Padahal tentu saja tidak ada
yang lebih terluka, tersayat dan teriris selain kehilangan orang-orang yang
tercinta dalam pembantaian. Orang-orang diperkosa demi politik, orang-orang
dibakar, harta bendanya dijarah, bagaimana orang bisa hidup dengan tenang?
Hanya politik yang bisa membuat orang membunuh atas nama agama. Mana ada agama
membenarkan pembunuhan. Apakah ini tidak terlalu berbahaya? Politik hanya
peduli dengan manusia. Apalagi hati manusia. Apakah kamu bisa membayangkan pak,
luka di setiap keluarga itu?
BAPAK
Ya.
IBU
Aku sungguh tidak mengerti, bagaimana manusia tidak bisa menerima
perbedaan. Apa orang itu tidak boleh berbeda?
BAPAK
Perbedaan itulah yang selalu
dianggap mengganggu.
IBU
Apa semua orang itu harus sama? Harus seragam? Sama pikirannya,
seleranya bahkan tingkah lakunya? Apa harus begitu?
BAPAK
Sudahlah, bu. Kita semua kan kurang pendidikan! Tidak ada orang
berpendidikan bacok-bacokan!
IBU
Justru pendidikan itu digunakan untuk mengibuli orang. Pendidikan
terror saja ada. Bukan untuk meneror sorang saja, tapi juga untuk masyarakat.
Itu juga hasil pendidikan lho. Pendidikan luar negeri malah. Dan tidak
sembarang orang bisa mengendalikan masyarakat sesuai dengan tujuan terornya.
Jadi pendidikan bukan jaminan, pak.
BAPAK
Yang kumaksudkan pendidikan yang membudayakan manusia. Terror sih bukan
kebudayaan, bu.
IBU
Siapa bilang? Apa betul begitu?
BAPAK
Maskudmu?
IBU
Aku ragu dengan semua pendapat yang sudah diterima sebagai kebenaran
tanpa dipertanyakan lagi.
BAPAK
Wah, kamu pasti kebanyakan baca buku
IBU
Itulah pendidikan, Pak. Bukan menghapal, tapi mempertanyakan.
BAPAK
Nah, itu yang dibilang Satria kalau debat denganku
IBU
Tapi aku membaca sendiri. Aku tidak mengutip Satria
BAPAK (Setelah jeda)
Hmmm. Kekerasan. Kekerasan. Anak bungsu kita sendiri diculik dan sampai
sekarang tidak kembali.
IBU
Jangan bilang tidak kembali. Satria hanya belum kembali.
BAPAK
Bu! Sudahlah! Hentikan mimpimu! Satria sudah tidak ada. Kalau masih
hidup, pasti dia sudah lama dikembalikan.
IBU (Menangis)
Mana kita tahu dia sudah dibunuh atau tidak?
BAPAK (Menghampiri)
Bu! Maafkan aku, Bu! Kurasa tidak pantas aku mengatakan Satria sudah
mati.
IBU (Masih menangis)
Sudah setahun lebih. Setiap malam aku berdoa mengharapkan keselamatan
Satria; hidup atau mati. Aku hanya ingin kejelasan. Kalau satria sudah
meninggal, aku tahu dia dibunuh karena pendiriannya. Apapun pendiriannya, dia
mati terhormat. Aku bangga kepadanya. Tapi kalau memang dia begitu
membanggakan, mengapa harus diculik, mengapa harus disekap begitu lama sehingga
sampai sekarang belum kembali? Mengapa? Mengapa? Mengapa kau culik anak kami?
BAPAK (Meninggalkan Ibu)
Sudah setahun lebih. Me-nga-pa-ka-u-cu-lik-a-nak-ka-mi. mengapa kau
culik anak kami? Ini pertanyaan yang tidak akan bisa dijawab. Apa bisa
pertanyaan ini dijawab oleh seseorang yang merasa memberi perintah menculiknya?
Apa bisa seseorang mengakuinya dengan jujur: “ Aku perintahkan agar mereka
diculik, karena mereka berani-beraninya menggugat kekuasaanku. Mereka itu
kurang ajar!” bisakah, bisakah seseorang yang berkuasa mengakui keangkuhannya?
JAM WESMINTER BERDENTANG SATU KALI. BAPAK MENUTUP JENDELA, MENUTUP
GORDEN.
BAPAK (Setelah jeda)
Bu, sudah larut. Kamu tidak mau tidur?
IBU
Bapak pikir apa yang bisa membuat kita bisa tidur? Tidurlah kalau mau.
Aku tidak pernah bisa tidur.
BAPAK (Mendekati Ibu)
Aku juga bu, aku capek sekali sebenarnya, tapi aku tidak pernah bisa
tidur.
MUSIK BLUES FADE IN. BAPAK DAN IBU DUDUK DI KURSINYA MASING-MASING.
TUBUH MEREKA TERKULAI BAGAIKAN ORANG MATI, TAPI MEREKA TIDAK MATI. MEREKA HANYA
CAPAI SEKALI. MUSIK BLUES FADE OUT. LAMPU PADAM.
SELESAI
Jakarta 13 Maret 1999

izin, copas.
BalasHapusterima kasih banyak. izin copas ya kak
BalasHapusTerima kasih, izin menyalin naskah.
BalasHapusTerima kasih, izin menyalin naskah.
BalasHapusSalam kenal. mohon maaf mau tanya nih, naskah ini yang di share ini, naskah asli atau sudah dalam bentuk naskah adaptasi ya? karena kebetulan saya mencari naskah ini, versi aslinya. terimakasih sebelumnya.
BalasHapusTerima kasih banyak
BalasHapus