Senin, 01 April 2013

Contoh Analisis Puisi yang Berjudul "sendiri"

Diposting oleh Maya Purnama di 21.32

Menganalisis puisi kadang susah-susah gampang,apalagi kalo nggak ngerti apa aja yang harus dianalisis.Di sini ada nih contoh puisi lengkap dengan analisi lengkapnya.

 
 
 ANALISIS STRUKTUR FISIK PUISI “SENDIRI”

KARYA
MAYA PURNAMA SARI

SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BUNG HATTA 



Sendiri
 Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuara
Ruang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh…
Angin menertawaiku
Kerikil-kerikitajam mengejekku
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kinipun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti
  

 a. Puisi ini terisnpirasi dari pengalaman pribadi di masa lampau.waktu itu pengarang yang suka menyendiri,sehingga tidak mempunyai teman.
b. Dalam puisi ini pengarang ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwasanya kita tidak akan mampu melalui hidup ini sendiri, sepintar apapun kita. Jadi berinteraksi atau berbaurlah dengan kehidupan di sebelahmu agar kamu tidak sendiri.
c. Puisi ini menceritakan tentang seseorang yang dalam hidup nya tidak mampu berbaur dalam lingkungan hidupnya.Dalam hidup dia sendiri,padahal ada begitu banyak orang  di dunia ini. Sehingga saat ia mengalami suatu permasalahan ia merasa sulit melaluinya. Saat ia bersuara seakan-akan suaranya tak mampu keluar,karena tak ada  teman yang akan mendengarkan nya.
  
Aliran sastra_
Puisi yang berjudul “sendiri”  ini termasuk ke dalam puisi yang  beraliran impresionalisme yaitu apa yang  dikemukakan dalam puisi adalah 
kesan penyair setelah mengalami kenyataan hidup ini.Penulis mengatakan demikian berdsarkan puisi berikut:
Sendiri 
Dalam sunyi aku terpaku 1
Berteriak meraung tak bersuara 2
Ruang waktu kian menyempit 3
Aku sendiri di tengah keramaian 4
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi 5
Aku terjatuh… 6
Angin menertawaiku 7
Kerikil-kerikil tajam mengejekku 8
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya 9
Dan kini pun langkahku tersesat dalam hidup 10
Tanpa arah yang pasti

1)      Dalam sunyi aku terpaku maknanya seseorang yang  dalam kesendiriannya dia teringat akan suatu kejadian yang membuatnya terdiam membungkam.
2)      Berteriak meraung tak bersuara maknanya seseorang yang tengah mencoba bicara pada orang-orang di sekitarnya tapi tidak dihiraukan sehingga teriakan suaranya itu tidak berbunyi.
3)      Ruang waktu kian menyempit makna nya ialah tentang seseorang yang sudah tidak sanggup lagi menjalani waktunya sehingga waktu itu terasa menyesak nya.
4)      Aku sendiri di tengah keramaian maknanya ialah seseorang yang  tidak mampu berinteraksi dengan lingkungannya sehingga di keramaian pun ia tetap merasa sendiri.
5)      Menaiki liku hidup yang semakin tinggi maknanya seseorang yang merasakan bahwa dalam menjalani hidup ini masalah dari hari kehari itu semakin banyak dan semakin sulit untuk dilewati.
6)      Aku terjatuh maknanya seseorang itu mengalami semakin banyak ujian dalam hidup nya. Ia sudah hamper menyerah dalam mengikuti langkah hidup.
7)      Angin menertawaiku maknanya ialah seseorang itu merasakan rasa malu yang begitu besar sampai-sampai dalam hatinya pun angin yang bukan makhluk hidup menertawai nya.
8)      Kerikil-kerikil tajam mengejek ku maknanya sama seperti makna angin menertawaiku”  yaitu sesuatu yang tidak mungkin pun mengejek nya karena ia begitu lemah dalam menjalani hidup sendirian tanpa teman / sandaran.
9)      Setiap puing semangat maknanya ialah semangat-semangat  yang dicoba dikumpulkan oleh seseorang itu untuk terus kuat menjalani hidup nya.
10)  Langkah ku tersesat makna nya seseorang tersebut benar-benar kehilangan arah  /  tujuan hidup nya.Ia sudah tidak tahu lagi ia harus hidup di mana dengan cara apa karena ia merasakan masalah hidup yang ia lewati begitu berat karena ia hanya sendiri menghadapi semua itu.

Parafrasa_
(Di) dalam (ke) sunyi (an) aku terpaku (.) Berteriak meraung (namun ) tak bersuara (.)  Aku sendiri di tengah keramaian (,) menaiki liku hidup yang semakin tinggi (.) Aku terjatuh…angin  menertawaku (,) kerikil-kerikil tajam mengejek ku (dan ) mematahkan setiap puing semangat  yang  ku miliki  (.)  Dan kini (pun ) langkah (kaki ) kutersesat dalam hidup tanpa ( tahu ) arah yang pasti (.)

 Pengimajian

Sendiri
 Dalam sunyi aku terpaku 1) imaji auditif
Berteriak meraung tak bersuara 2) imaji auditif
Ruang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaian 3) imaji visual
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi 4) imaji taktil
Aku terjatuh… 5) imaji  visual
Angin menertawaiku 6) imaji visual
Kerikil-kerikil tajam mengejek ku 7) imaji taktil
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya 8) imaji taktil
Dan kinipun langkah ku tersesat dalam hidup 9) imaji taktil
Tanpa arah yang pasti
 

 Sugesti kata-kata

Sendiri
Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuara
Ruang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh a) sedih
Angin menertawaiku  b) sedih
Kerikil-kerikil tajam mengejek ku c)  sedih
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kini pun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti


  Makna daya sugesti kata-kata
a)      Kata-kata  “ Aku terjatuh “ mensugestikan kepada pembaca untuk ikut merasakan sedih karena pengarang menggambarkan dirinya yang  tengah berusaha untuk menjalani hidup sendirian tanpa teman, namun ia sudah terlalu letih sehingga ia susah dan jatuh dalam langkahnya menjalani hidup.
b)      Kata-kata  “ angin menertawaiku  “ mensugestikan kepada pembaca untuk ikut merasakan sedih yang dirasakan pengarang. Yaitu rasa sedih karena ia semakin sulit menjalani hidup dengan kesendiriannya. Bahkan saking sedihnya ia menggambarkan perasaannya dengan kata-kata “ angin menertawaiku “.
c)      Kata-kata “ kerikil-kerikil tajam mengejekku  “ mensugestikan kepada pembaca untuk ikut merasakan kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh pengarang karena ia yang  tengah sedih karena ia yang  tidak mampu menjalani hidup sendirian tanpa adanya tempat mengadu.

  Makna pengimajian

7.1. Imaji visual

1)      Di tengah keramaian
Kata-kata di tengah keramaian dalam puisi sendiri menggambarkan pada pembaca seolah-olah ikut melihat suatu keramaian yang di alami oleh pengarang dalam puisi.
2)      Aku terjatuhKata-kata  aku terjatuh dalam puisi sendiri menggambarkan kepada pembaca seolah-olah untuk ikut menyaksikan atau melihat keadaan pengarang yang terjatuh.
3)      Angin menertawaiku
Kata-kata  angin menertawaiku dalam puisi sendiri menggambarkan pada pembaca seolah-olah ikut melihat keadaan pengarang yang ditertawai oleh angin.

 7.2. Imaji auditif

1)      Dalam sunyi
Kata-kata dalam sunyi dari puisi sendiri seolah-olah mengajak pembaca ikut merasakan keadaan yang begitu sunyi tanpa adanya suara-suara ribut ,yang ada hanya keadaan  yang sunyi.
2)      Berteriak meraung
Kata-kata berteriak meraung mensugestikan kepada pembaca seakan-akan pembaca mendengarkan teriakkan pengarang.

 7.3. Imaji taktil

1)      Menaiki liku hidup
Kata-kata menaiki liku hidup mensugestikan pada pembaca untuk ikut merasakan perasaan  yang dirasakan oleh pengarang yaitu perasaan sulitnya mengalami hidup  yang  begitu sulit.
2)      Kerikil-kerikil tajam mengejek ku
Kata-kata kerikil-kerikil tajam mengejekku mensugestikan kepada pembaca untuk ikut merasakan sakitnya  kerikil-kerikil yang tajam itu mengejek diri pengarang.
3)      Mematahkan setiap puing semangat
Kata-kata setiap puing semangat  yang ditulis pengarang menggambarkan pada pembaca untuk ikut mersakan sakitnya persaan pengarang saat setiap puing-puing semngat yang susah payah dikumpulkannya kemudian dipatahkan.
4)      Langkah ku tersesat dalam hidup
 Kata-kata  langkah kutersesat dalam hidup dalam puisi sendiri mensugestikan kepada pembaca untuk ikut merasakan kesedihan pengarang yang kehilangan arah hidup nya.Karena pengarang menggambarkan nya lewat kata tersesat ,yaitu ia tidak tahu lagi harus membawa diri kemana, di sini pembaca seakan-akan merasakan perasaan pengarang. 

 Bahasa Figuratif (Majas)

A.Kiasan ( Gaya Bahasa)

Sendiri

Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuara
Ruang waktu kian menyempit  1.personifikasi
Aku sendiri di tengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh…
Angin menertawaiku 2.personifikasi
Kerikil-kerikitajam mengejekku 3.personifikasi
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kinipun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti

 1.Ruang waktu kian menyempit mengumpamakan waktu yang bisa bergerak menjadi kecil.
2.Angin menertawaiku mengumpamakan seolah-olah angin bisa tertawa layaknya manusia.
3.Kerikil-kerikil tajam mengejekku mengumpamakan angin yang hidup dan bisa tertawa.

B.Pelambangan

1.      Lambang warna

Dalam puisi “sendiri” tidak terdapat lambang warna.

2.      Lambang Benda

-kerikil-kerikil tajam mengejekku,maknanya ialah suatu hal yang begitu menyakit kan,dilambangkan dengan kerikil-kerikil yang tajam.

 3.      Lambang Bunyi

-bunyi /i/
Sendiri

Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuara
Ruang waktu kian menyempit
Aku sendiri dtengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggiAku terjatuh…
Angin menertawaiku
Kerikil-kerikitajam mengejekku
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kinipun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti

-bunyi /a/
Sendiri 

Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuaraRuang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaianMenaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh…
Angin menertawaiku
Kerikil-kerikitajam mengejekku
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punyaDan kinipun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti
 
-bunyi /u/
Sendiri 

Dalam sunyi aku terpakuBerteriak meraung tak bersuara
Ruang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh
Angin menertawaikuKerikil-kerikitajam mengejek ku
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kinipun langkahku tersesat dalam hidupTanpa arah yang pasti
 -bunyi /e/
Sendiri 

Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuara
Ruang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh…
Angin menertawaiku
Kerikil-kerikitajam mengejekku
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kinipun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti
  
-bunyi /r/
Sendiri

 Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuaraRuang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh…
Angin menertawaiku
Kerikil-kerikitajam mengejekku
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kinipun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti
 
 -bunyi /s
/Sendiri 

Dalam sunyi aku terpaku
Berteriak meraung tak bersuara
Ruang waktu kian menyempit
Aku sendiri di tengah keramaian
Menaiki liku hidup yang semakin tinggi
Aku terjatuh…
Angin menertawaiku
Kerikil-kerikitajam mengejekku
Mematahkan setiap puing semangat yang ku punya
Dan kinipun langkahku tersesat dalam hidup
Tanpa arah yang pasti
 
 4.      Lambang Suasana
Suasana dalam puisi “sendiri” ini memperlihatkan suasana sedih dan haru karena pengarang mengisyaratkan kepada pembaca tentang pengarang yang mengalami kesulitan dalam menjalani hidup,dan burusaha payah dalam menjalani kehidupannya.

 Unsur Hakikat Puisi

1.      Tema
Tema adalah gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair.Tema dari puisi “sendiri” ini adalah tentang seseorang yang mengalami kesulitan dalam menjalani hidupnya karena ketidakmampuannya dalam bergaul.

2.      Perasaan (Feeling)
Dalam mengungkapkan puisi,suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca.Perasaan dalm puisi “sendiri” ini yaitu perasaan sedih

3.      Nada dan Suasana
Nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca,maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca.Dalam puisi “sendiri” penyair menyampaikan puisi yang bernada santai.Dan suasana yang tercipta oleh puisi “sendiri” adalah suasana sedih dan terharu.

4.      Amanat ( pesan )
Amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh penyair dalam puisi “sendiri” ini ialah supaya kita mampu bergaul sesama makhluk sosial,karena pada dasarnya kita tidak mampu hidup sendiri tanpa bantun dari orang lain.Jadi bergaullah dengan orang-orang yang berada di sekitar kita supaya kita tidak kesepian dan sendirian dalam menjalani hidup,sehingga hidup terasa lebih indah. 

 DAFTAR PUSTAKA 
Waluyo,Herman J.,Teori dan Apresiasi Puisi,Jakarta:Penerbit Erlangga,1987.  


SEMOGA BERMANFAAT.. 

2 komentar:

 

Maya Purnama Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea